Konservasi Spiritualitas Kristen di Era Modern
Dalam budaya Timur, spiritualitas menjadi dasar utama dalam membangun sistem kehidupan. Penekanan pada etika dan moralitas menjadi ciri yang mencolok pada teologi peradapan Timur. Meskipun dunia modern telah memberikan resonansi makna terhadap spiritualitas, namun corak spiritualitas metafisik tetap mendominasi model pembetukan spiritualitas masyarakat Timur. Dunia yang serba inklusif melalui kehadiran era baru, yaitu 5.0 (era industri), agaknya corak metafisik yang menghiasi spiritualitas masyarakat Timur juga mulai terancam. Di satu sisi, era keterbukaan ini juga menjadi peluang bagi spiritualitas metafisik ala Timur mendapatkan tempat di hati peradapan modern. Di tengah situasi sosial yang tidak menentu, perubahan budaya yang konstan dan industrialisasi yang masif, agaknya refleksi dari spiritualitas metafisik dapat menjadi alternatif untuk mengendalikan nafsu perubahan yang cenderung disrupttif. Kekristenan sebagai salah satu bagian dari kepelbagaian spiritualitas Timur dapat menjadi pedoman dalam upaya menemukan ketenangan batin di tengah hiruk pikuk modernitas.
Gereja lahir dari rahim sejarah dan faktualitas dengan membawa spirit teologis yang baru. Dalam perkembangannya, tidak dapat dipungkiri bahwa kekristenan juga mulai masuk pada trend modernitas. Pola bergereja pun juga terus mengalami penyesuaian dengan tren modern yang dianggap kekinian, bahkan tidak sedikit yang mengabsolutkan menjadi kebenaran yang harus dihidupi. Sederhananya, jika tidak mengikuti tren, gereja dianggap ketinggalan zaman dan akan ditinggalkan umatnya. Benarkah demikian? Untuk menanggapi fenomena ini, setidaknya kita perlu kembali pada esensi dari gereja dan kekristenan. Setidaknya, dengan memahami kembali hakikat dasar dari gereja dan kekristenan, umat Allah akan diberikan cermin refleksi siapa sesungguhnya mereka.
Gereja dalam teks Yunani Koine sering menggunakan "ekklesia", secara terminologis menerangkan posisi seseorang yang "terpanggil keluar". Sampai saat ini defenisi sederhana ini dikembangkan dalam diskursus teologis, misalnya kata tersebut dimaknai dengan "seseorang yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang". Dalam hal ini, umat Allah juga perlu mempertimbangkan bagaimana sebutan "gereja" berkembang dalam konteks sejarah dan sosialnya. Pada bagian awal kitab Kisah Para Rasul, transisi identitas terlihat samar. Justru keberadaan "komunitas murid Yesus" ini dianggap sebagai gerekan-gerakan masyarakat Yahudi (Kis. 6:34-35). Catatan historiografis Lukas memberikan informasi bahwa abad pertama menjadi penanda penting bahwa gereja merupakan suatu "perkumpulan dengan spiritualitas yang baru", yaitu spiritualitas yang mewarisi spiritualitas sang Guru Agung, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Secara sederhana, gereja menjadi kristus-kristus kecil yang mendatangkan rasa damai, tenteram, tenang, dan keteduhan di tengah situasi yang serba melawan. Sebagai bagian dari gereja secara universal, umat Allah secara pribadi terpanggil untuk berani keluar dari jebakan dan cengkeraman modernitas, tanpa bersikap transenden terhadap modernitas itu sendiri. Point pentingnya, umat Allah tidak dapat mengubah dan menghidari modernitas, namun merefleksikan kembali spiritualitas Tuhan Yesus menjadi tugas utama bagi gereja di tengah masyarakat yang serba terbuka.
Kekristenan, tidak dipahami sebagai identitas, melainkan sebagai realitas peradapan. Penggunaan istilah kekristenan harus dipahami melampaui dari sekadar istilah teologis. Tetapi istilah ini perlu dipandang sebagai realitas dalam peradapan, di mana realitas ini telah membawa nilai-nilai yang arif dan bermanfaat bagi peradapan itu sendiri. Kekristenan tidak lagi dipandang sebagai milik kelompok beragama tertentu, tetapi telah menjadi milik peradapan. Artinya, telah terdapat ruang yang sangat terbuka bagi gereja dalam mewartakan nilai-nilai luhur dari kekristenan, karena kekrsitenan bukan lagi sebagai realitas transenden, tetapi telah menubuh dalam peradapan. Pertanyaannya, apakah seseorang mau menghidupi nilai-nilai kekristenan? Gereja bertanggunjawab menjadi pewarta spiritualitas kekristenan itu sendiri. Bagaimana gereja mayakini kitab suci sebagai Firman Allah yang memberikan petunjuk hidup? Bagaimana gereja melestarikan pengakuan (kredo) yang selama ini terwariskan setiap generasi? Bagaimana gereja memahami sakralitas liturgi dalam peribadatan? Bagaimana gereja melibatkan umat terlibat dalam panggilan pemberitaan Injil Kerajaan Allah? itu semua adalah tugas abadi yang harus diwariskan kepada setiap generasi sebagai upaya mengkonservasi spiritualitas Kristen di era modern dengan keragaman spiritualitas.